Perkenalan

Jumat, 03 April 2020

Langkak Kaki Selanjutnya

Minggu pagi 03 maret 2019. Kuda di Gunung Tangkuban Perahu, Dingin dan sejuk.




   Sepeda motornya melaju melibas aspal, dari Karawang ke Purwakarta ke Subang hingga perbatasan Lembang. Bermodalkan rindunya pada udara dingin tetapi belum punya waktu, uang, dan rekan untuk kembali mendaki gunung. Dia rasa Gunung Tangkuban Perahu cocok sebagai obatnya.

  Harga tiket masuk untuk kendaraan roda dua sebesar Rp.18.000,00. Dirinya memutuskan untuk melihat pemandangan dari bibir kawah dan tak menuju puncaknya, hanya berada di ketinggiam 1800 mdpl. Bukan tanpa alasan, kembali ia buka buku dan mulai menggores tinta hitam itu.



  Bila gunung biasanya kita temui ramai dengan pejalan kaki yang membawa tas besar dipunggungnya, maka Gunung Tangkuban Perahu telah menjadi objek wisata yang ramah akan pengunjung. Banyak keluarga lengkap dengan anak-anak yang masih kecil datang kemari menggunakan mobilnya. Bukan tak baik, toh justru bagus memperkenalkan alam pada anak sejak dini. Hiburan tak melulu tentang mall, ponsel, Televisi atau lain-lain. Jika kalian berfikir bahwa gunung jadi tidak seru karena ramai, maka kalianlah yang egois.

   Sembari berjalan menyusuri aspal di udara dingin dengan angin yang semakin kencang, matanya melihat pemandangan yang dianggapnya menarik. Bukan, bukan segelincir awan atau gunung lainnya di seberang sana, melainkan kerumunan kuda lengkap dengan masing masing penjaga disampingnya yang berpakaian ala koboy. Mereka memberikan jasa menunggang kuda bagi anak-anak untuk berkeliling melihat daerah sekitar tangkuban perahu.

   "Ah jadi pengen jadi anak kecil lagi." ujarnya lirih pada dirinya sendiri.

  Senyum tercetak dibibirnya, kerinduannya akan udara dingin terbayar sudah, malah mendapatkan bonus. Sebuah pelajaran ia petik dimana manusia dan alam dapat bercengkrama dengan damai. Di Gunung ini tak ia temukan kegelisahan dan hiruk pikuk kota yang biasanya ia temui disebuah keluarga. Anak yang minta dibelikan mainan oleh orang tuanya tetapi orang tuanya sedang sibuk mengantri tiket busway dengan ayah yang sedang didesak oleh atasannya untuk segera mengumpulkan deadline yang ada dirumah.

   Melalui gunung yang ramah ini dia bersyukur, bahwa segala hal mengenal toleransi. Antara manusia, hewan, tumbuhan, serta alam raya ini.

   Dan.... Setelah semua perjalanan ini, kembali kerumah adalah hal yang menyenangkan pula. Kembali melihat senyum para orang tercinta. Dirinya masih menunggu kejutan-kejutan lain dari setiap pertanyaan dikepalanya.

  Terus langkahkan kaki, dari langkah satu ke langkah selanjutnya. Jika lelah, berhentilah sejenak untuk beristirahat, jangan berhenti untuk menyerah. Aku percaya padamu bahwa semua hal menciptakan perjalanan selanjutnya, menanti cerita berikutnya untuk diceritakan.

See you....



Follow me in instagram @airlangga.15_



Tidak ada komentar:

Posting Komentar