Lockdown 22 april 2020 hari ke-sekian
Bangsat! Dalam pandemi rasanya kaki ini semakin memberontak meminta dilangkahkan lagi, agaknya ia bersekongkol dengan mata yang terus meronta ingin melihat pengalaman menakjubkan lainnya. Beruntung hati masih berperasaan untuk tetap menjaga keseimbangan ekonomi dalam tubuh, bersama-sama dengan otak yang mengontrol semua masyarakat tubuh untuk tetap tenang dan bersabar sampai waktu yang belum ditentukan.
Apa dapat disebut miris? Di tengah gencar-gencarnya peradaban di muka bumi ini, manusia masih terseok-seok oleh makhluk kecil yang mereka sebut (Corona). Lalu negara manakah yang pantas disebut paling maju jika makhluk kecil ini masih menjadi momok dan ketakutan seluruh manusia di bumi tercinta ini?.
Berbahagialah bunga Edelweiss, abadimu benar-benar abadi. Berbahagialah Owa Jawa, setiamu benar-benar setia. Berbahagialah bumi, pohon-pohonmu menghasilkan udara yang sejuk tanpa polusi.
Sikap simpatik dan kemanusiaan tiba-tiba merajalela di seluruh penjuru bumi demi cepat selesainya pandemi ini. Satu keuntungan dimana pandemi ini membawa perubahan terhadap manusia sekarang, menjadikannya beradab. Meski tak seharusnya menunggu bencana seperti ini, lalu datang sikap simpatik.
Menyebalkannya, beberapa kalangan justru memanfaatkan moment ini untuk mencari keuntungan. Sudah dirugikan dengan pandemi ini, ditambah dengan sikap baru yang muncul dibeberapa manusia, menjadi biadab. Seolah-olah, gencarnya suara kemanusiaan tak dapat mendengungkan gendang telinga mereka.
Di tengah peradaban yang semakin hari kian maju dengan negara-negara adidaya mengklaim bahwa merekalah yang terkuat. Hingga muncul satu makhluk ini, tak ada yang dapat melawannya. Agaknya terlalu utopis jika saya membawa satu dunia dalam pemikiran kali ini. Baiklah, mari kita coba berpikir Mengenai negara tercinta kita. Indonesia.
Di tengah peradaban Indonesia yang kian maju. Dimana rakyatnya mulai bahkan sudah berpikir modern, ada baiknya bahwa menjadi beradab harus dilakukan ketimbang menjadi egois dan menojolkan sikap biadab. Meski tak bisa menjadi beradab selamanya, namun dalam situasi seperti ini menghilangkan sikap biadap tentu akan sangat membantu manusia lainnya. Bukankah menjadi biadab dalam kurungan seperti ini tidak menyenangkan? kalian tidak bisa bebas berkeliaran dan menyerukan sikap kalian demi dapat pengikut lebih banyak lagi. Beruntung jika menerapkan sikap beradab dalam diri dapat menjadikannya permanen dan menghilangkan sikap biadab.
Suara kemanusiaan yang kian berseru penting untuk selalu didengarkan, meski tak bisa membantu dalam materil bantulah dengan doa. Tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja dan kian berlalu.
Lekas membaik manusia di bumi, lekas memaafkan bumi pada manusia, lekas berpikir manusia demi bumi yang lebih baik, lekas bijaksana bumi demi manusia yang berbakti.
Selamat Hari Bumi Sedunia. Semoga ini menjadi awal untuk bumi yang lebih baik. Untukmu bumiku tercinta, tetap mencantik dan kian kurawat. Tinta dan kertas ini takkan henti menulis keelokanmu. Agar sejarah membekas selalu.
See you....
Follow me in instagram @airlangga.15_
Sebuah Perjalanan
Sebuah Perjalanan adalah catatan mengenai pengalaman dan sudut pandang saya dalam setiap perjalanan yang saya lakukan. Disini memuat tentang opini yang saya rasakan ketika bercengkrama atau melihat langsung hal hal yang saya temui
Perkenalan
Rabu, 22 April 2020
Sabtu, 04 April 2020
Puisi Sebuah Perjalanan (Jawaban)
Senja diambang tenggelamnya
Surya meredup menghapus gagah jingganya
Sore itu Stasiun Tanjung Priok.
Manusia berbaris membentuk pola ular-ularan
Demi sebuah kertas pengantar pulang
Tas-tas besar bergeletakan
Wajah lusuh nan kantuk pun terpampang.
Tatkala gerbang dibuka
Para manusia berlari memasuki gerbong kereta
Berebut kursi paling nyaman demi duduk sejahtera
Prioritas hanya kertas tempel belaka.
Gesekan roda kereta dengan rel
Mengantar mereka semua pulang
Mendamba kasur yang nyaman
Hingga esok dapat bangun siang.
Tiba mereka di Stasiun tujuan
Mereka pulang penuh peluh tanpa kesan
Meski terpampang sebuah senyuman.
Kalian belum selesai
Ingat lusa masih kembali datang
Kembali kalian menjadi manusia berutunitas
Bukan Robot berdaya tak terbatas.
Wahai kawanku
Sungguh setiap perjalanan adalah sebuah jawaban
Dan jawaban akan melahirkan pertanyaan.
Apa artinya manusia tanpa kebebasan
Pecut, tanpa belas kasihan
Inikah tentang angan-angan?
Atau perut pokok pangan?.
Sepatu butut kemeja jadul
Bahagia didapat dari mana saja.
See you...
Follow me in instagram @airlangga.15_
Jumat, 03 April 2020
Langkak Kaki Selanjutnya
Minggu pagi 03 maret 2019. Kuda di Gunung Tangkuban Perahu, Dingin dan sejuk.
Sepeda motornya melaju melibas aspal, dari Karawang ke Purwakarta ke Subang hingga perbatasan Lembang. Bermodalkan rindunya pada udara dingin tetapi belum punya waktu, uang, dan rekan untuk kembali mendaki gunung. Dia rasa Gunung Tangkuban Perahu cocok sebagai obatnya.
Harga tiket masuk untuk kendaraan roda dua sebesar Rp.18.000,00. Dirinya memutuskan untuk melihat pemandangan dari bibir kawah dan tak menuju puncaknya, hanya berada di ketinggiam 1800 mdpl. Bukan tanpa alasan, kembali ia buka buku dan mulai menggores tinta hitam itu.
Bila gunung biasanya kita temui ramai dengan pejalan kaki yang membawa tas besar dipunggungnya, maka Gunung Tangkuban Perahu telah menjadi objek wisata yang ramah akan pengunjung. Banyak keluarga lengkap dengan anak-anak yang masih kecil datang kemari menggunakan mobilnya. Bukan tak baik, toh justru bagus memperkenalkan alam pada anak sejak dini. Hiburan tak melulu tentang mall, ponsel, Televisi atau lain-lain. Jika kalian berfikir bahwa gunung jadi tidak seru karena ramai, maka kalianlah yang egois.
Sembari berjalan menyusuri aspal di udara dingin dengan angin yang semakin kencang, matanya melihat pemandangan yang dianggapnya menarik. Bukan, bukan segelincir awan atau gunung lainnya di seberang sana, melainkan kerumunan kuda lengkap dengan masing masing penjaga disampingnya yang berpakaian ala koboy. Mereka memberikan jasa menunggang kuda bagi anak-anak untuk berkeliling melihat daerah sekitar tangkuban perahu.
"Ah jadi pengen jadi anak kecil lagi." ujarnya lirih pada dirinya sendiri.
Senyum tercetak dibibirnya, kerinduannya akan udara dingin terbayar sudah, malah mendapatkan bonus. Sebuah pelajaran ia petik dimana manusia dan alam dapat bercengkrama dengan damai. Di Gunung ini tak ia temukan kegelisahan dan hiruk pikuk kota yang biasanya ia temui disebuah keluarga. Anak yang minta dibelikan mainan oleh orang tuanya tetapi orang tuanya sedang sibuk mengantri tiket busway dengan ayah yang sedang didesak oleh atasannya untuk segera mengumpulkan deadline yang ada dirumah.
Melalui gunung yang ramah ini dia bersyukur, bahwa segala hal mengenal toleransi. Antara manusia, hewan, tumbuhan, serta alam raya ini.
Dan.... Setelah semua perjalanan ini, kembali kerumah adalah hal yang menyenangkan pula. Kembali melihat senyum para orang tercinta. Dirinya masih menunggu kejutan-kejutan lain dari setiap pertanyaan dikepalanya.
Terus langkahkan kaki, dari langkah satu ke langkah selanjutnya. Jika lelah, berhentilah sejenak untuk beristirahat, jangan berhenti untuk menyerah. Aku percaya padamu bahwa semua hal menciptakan perjalanan selanjutnya, menanti cerita berikutnya untuk diceritakan.
See you....
Follow me in instagram @airlangga.15_
Langkah Kaki
Siang itu sangat terik. Ibukota 30 Desember 2018.
See you....
Follow me in instagram :@Airlangga.15_
Panas terik menemani perjalan. Yah namanya anak muda, sukanya keluyuran. Dan bagi anak muda yang belum punya banyak uang, jalan-jalan ke Ibu kota adalah alternatifnya, berhubung kota tempat tinggalnya berada tak jauh dari Ibu kota.
Jakarta, Pusat Pemerintahan dan juga kota Bisnis di Indonesia. Kehidupan serba sibuk dan cepat terjadi di kota ini. Jika senin sampai jumat kota ini sibuk oleh para karyawan kantoran dengan dasi rapih mentereng, membusung di dadanya, maka sabtu dan minggu kota ini disibukan oleh pedagang kaki lima di tempat wisata yang melayani wisatawan dalam atau luar kota.
Sebut saja Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas) yang selalu menjadi destinasi Favorit wisatawan, terlebih karena gratis. Baru menginjakan kaki di tempat tersebut, sudah banyak pedagang yang menawarkan Es teh manis di gelas cup plastik seharga lima ribuan. Tak lama berjalan kita langsung dapat melihat orang orang dengan warna berbeda, mereka berwarna hijau, emas, merah, hitam, dan lain-lain.
Tak buruk, justru ini merupakan pemandangan yang tak biasa. Tuhan benar-benar menciptakan manusia dengan akal yang luar biasa. Ditengah hiruk pikuk kesibukan orang berdasi di Ibu kota, mereka atau bapak-bapak ini tak kehabisan akal demi rupiah yang halal untuk keluarganya.
Tak jauh juga dari orang orang yang menjadi mannequin, ada beberapa lagi yang berkostum layaknya tokoh kartun favorit anak-anak. Untuk yang satu ini dia tak dapat menyimpukan, apakah pria atau wanita.
"Tempat ini dapat menjadi Disney Landnya Indonesia." besitnya dalam hati.
Percayalah semesta ini memiliki banyak keajaiban, dan Tuhan akan selalu adil pada hamba-hambanya. Percayalah jika semua yang kau miliki adalah kecukupan untukmu. Tak kekurangan dan tak berlebihan. Baginya perjalan ini memberikan banyak jawaban atas setiap pertanyaan di kepalanya, tak ada istilah orang beruntung atau sial, yang ada hanya orang yang mau berusaha atau tidak mau berusaha.
Dirinya senang, sebuah moment perjalanan singkat ini dapat memberinya pengalaman dan pemebelajaran yang luar biasa, hanya karena bapak berwarna dan tokoh kartun itu.
Terus langkahkan kaki, setiap perjalanan membawamu pada sebuah jawaban, juga memberimu sebuah perjalanan lagi. Tergantung bagaimana anda memaknainya.
See you....
Follow me in instagram :@Airlangga.15_
Langganan:
Postingan (Atom)




